Kuala Lumpur, 8 Juli 2021
Assalamualaikum, selamat pagi temen”...
Pagi ini kembali mendengar kabar yang tidak mengenakan hati lagi, pakwo (kakak/adik kakekku) meninggal karna positif covid. Beliau sudah tua dan ada riwayat penyakit jantung jadi mungkin imunnya kurang kuat untuk melawan virus ini. Sempat dibawah ke Rumah Sakit tapi setelah di swab tes hasilnya positif covid lalu mereka menolak pasien. Akhirnya belau dirawat dirumah, anak beliau membelikan infus oksigen untuknya dan Alhamdulillah dia sudah bisa bicara. Tapi Allah berkata lain Dia lebih sayang dengan pakwo, beliau meniggal pagi tadi. Dan mau tidak mau bapakku harus ikut mengurusnya karna beliau suadara tua. Rasa khawatir ada pastinya karena bapakku harus mengurusi jenazah yang postif covid tanpa baju apd atau apapun itu yang dokter kenakan untuk mengurusi jenazah covid. Kemungkinan terjangkit virusnya sangat besar tapi aku juga tidak bisa melarang bapakku, aku juga setuju dengan tindakan kekeluargaan dia. Tapi ada satu yang menganjal pikiranku, ibuku saat ini sedang sakit dan aku suruh periksa tidak mau karena takut di diagnosa covid. Yah saat ini dunia memang lagi berduka karena covid, tapi Indonesian lebih berduka karena ada oknum yang memprovokasi rakyat dengan pemerintah. Entah siapa oknum itu banyak diberitakan orang meniggal covid tapi ternyata tidak dan pas dibuka kain kafannya ditemukan organ tubuh yang sudah hilang. Jadi wajar jika orang sakit takut pergi ke dokter termasuk ibuku. Yang membuatku lebih khawatir itu karna bapakkua berinteraksi langsung dengan orang yang positif covid, bapakku bisa saja terlihat sehat karena imun dia kuat tapi ibuku aku tidak yakin. Aku suruh dia minum obat minum vitamin dan uang lagi yang jadi masalah. Sedikit cerita mengenai keuangan keluargaku, jadi bapakku itu orangynya kadang kerja kadang tidak dan ibuku orang yang susah untuk bersyukur. Aku kerja untuk membiayai sekolah 2 adiku SMP dengan SMK yang tidak murah tentunya. Dan adiku yang dibawahku kerja mau tidak mau untuk makan keluargaku. Tapi ibuku selalu merasa kurang karena kurang bersyukur, jika sakit pasti alasannya karena tidak punya uang. Dan dikondisi saat ini dia sakit tapi tidak mau minum obat alasannya tidak punya uang untuk membelinya, padahal bapakku yang merasa pusing saja langsung minum obat berarti kan ada uang. Akhirnya aku mengirimkan uang untuk membeli obat dan vitamin, bukannya pelit atau hitung”an tapi uangku tabung juga untuk biaya adik”ku sekolah. Semoga orangtuaku dan adik”ku sehat selalu amiiin.
Bukan hanya dikeluarga kecilku saja masalah uang ini, keluarga besarku pun sama. Seminggu yang lalu pakdeku meninggal dan tidak tahu sakit apa, tapi beliau tidak ada yang ngurus karena 3 anak beliau sedang di rumah sakit karena covid. Menurut kamu wajar jika pakdeku meniggal bukan karena covid? Sedangkan ke 3 anaknya covid? Dan itu bapakku juga yang memandikan jenazahnya, yang selalu hadir dirumahnya untuk mendoakannya. Nenekku rumahnya tepat didsamping rumah pakde saja tidak datang, anak” dia yang notabennya adik pakdeku saja kadang” datangnya. Sebelum meninggal pakde pesan ingin ketemu dengan ibuku tapi ibuku tidak datang dengan alasan tidak ada uang, padahal kakak kandungnya sekarat. Ibuku seperti itu karena istri pakdeku sering menyindir kalau keluarganyalah yang selalu berperan materi membantunya didepan ayahku yang tulus membantu tenanga dan selalu ada. Karena alasan itulah ibuku tidak kesana dan tidak sempat bertemu dengannya sebelum meninggal. Anak dari nenekku yang notabennya adik kandung dari pakde melarang nenek datang kesana. Keluarga apakah ini? Kenapa selalu materi yang jadi problemnya?
Sedikit cerita lagi mengenai background keluargaku, jadi keluarga nenekku itu terbilang kayalah dan anak”nya pun kaya” kecuali ibuku. Ibuku selalu dikucilkan oleh saudara”nya, kalau mereka piknik acara keluarga tidak pernah ingat tapi kalau ada hajatan selalu ingat kalau ibuku tidak datang pasti jadi bahan omongan. Dari sumbernya (nenek) saja sudah pilih kasih, jadi nurunlah itu ke semua anaknya yang selalu memandang rendah keluargaku. Jika lebaran tiba drama pun dimulai, yang semua pakai mobil motor bajunya mahal heboh, lain dengan keluargaku. Waktu memberi pecing (angpau versi islam) saja beda nominalnya, anak tanteku yang kaya nenek bagi 100ribu, anak ibuku yang miskin dibagi 5 ribu mentok”nya 20 ribu. Belum lagi hinaan yang dilontarkan kepada bapak dan ibuku. Padahal pakdeku termasuknya bukan orang miskin, tapi nenekku dan keluargnya kadang” dan tidak tulus menolongnya karena istri pakde yang selalu membandingkan dengan keluarganya yang selalu memberi materi lebih. Kalau sudah begini yang repot siapa bapakku juga yang miskin harus mengurus jenazah yang kemungkinan covid. Aku benci dengan kondisi keluarga besarku yang selalu mengukur materi untuk kasih sayangnya, dari akarnya saja sudah tidak betul jadi menurun ke pohon” dan cabangnya. Aku juga memarahi ibuku karena dia tidak mau datang disaat” kepergian pakde, tapi gimana lagi dia selalu mempermasalahkan uang.
Aku selalu pesan dengan adik”ku supaya tidak mencontoh kelakuan keluarga besarku. Semoga kelak keluargaku tidak tercerai berai seperti itu, soleh dan solehah tau kekeluargaan lebih penting dari sagalanya..
Amiiin..
Komentar
Posting Komentar